Kamis, 14 Agustus 2014

[FF] The Bad Boy - Chapter 1 : New Friends


Title : The Bad Boy

Author : Dyan Rosdiana

Cast :
  1. Justin Bieber as Justin Bieber.
  2. Josh Hutcherson as Joshua Osbron.
  3. Austin Mahone as Dylan Rexford.
  4. Ariana Grande as Lily Madison.
  5. Bella Thorne as Vanessa Phyllis.
  6. AnnaSophia Robb as Daisy Wellington.
  7. Dakota Fanning as Lucy Clarimond.
Genre : Humor , Romance (maybe?) , Friendship , School Life

Rating : T

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Seluruh ide cerita dalam ff ini adalah murni karangan author. Seluruh cast milik tuhan, orang tua, Beliebers, fans, dan yang berhak saja :D

A/N : FF ini terinspirasi dari game yang aku suka. Nama game itu adalah Bullworth Academy. Jika ada kesamaan cerita dan nama tokoh harap dimaklumi! FF ini udah pernah aku publish di akun wattpadku. Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak! :)


Warning! Gaje, Typo, OOC, dan penulisan tidak sesuai dengan EYD.



Chapter sebelumnya => The Bad Boy - Prolog






[Preview] The Bad Boy - Prolog

"Jadi apakah anda adalah Mr. Bieber?" Tanya pria tua itu.

"Ya. Dan ini adalah putraku Justin Drew Bieber. Aku berharap dengan dia tinggal dan bersekolah disini. Dia bisa menjadi anak remaja laki-laki yang baik"

"Oke Justin, kau akan diantar oleh Mrs. Stewart ke kamar asrama mu..."

"Ayo Justin. Ikut saya!!!"

"Uh... Okay!"

-
-

The Bad Boy (Chapter 1 : New Friends)

-
-

Justin diantar oleh Mrs. Stewart berjalan menuju asrama boy untuk tempat tinggalnya nanti. Letak asrama itu lumayan jauh dari gedung sekolah. Justin pun berjalan sambil memperhatikan keadaan sekitarnya. Sepi sekali, itulah kata yang terlintas dari pikiran seorang Justin Drew Bieber. 

.

.

.

.

.

Kini Justin dan Mrs. Stewart masuk kedalam sebuah gedung besar bertingkat bertuliskan Dorm Boys. Mereka pun masuk kedalam gedung itu. Masih seperti tadi, suasana di dalam gedung itu benar-benar sunyi senyap. Mereka melanjutkan perjalanan dan terhenti pada sebuah ruang kamar bertuliskan angka 8. 

"Nah ini adalah kamarmu Justin. Kau bisa masuk ke dalam dan membereskan semua barang-barang milikmu" Ucap Mrs. Stewart.

"Uhh--Okay..." Justin pun memutar bingkai pintu itu dan masuk ke dalam kamar tersebut.



.

.

.



Justin Pov

Aku membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar. Aku melihat ada tiga ranjang single di dalam kamar ini. Tapi aku sangat tidak menyukainya, karena kamar ini sangat sempit. Aku pun melihat-lihat keadaan kamar ini. Setelah aku melihat keadaan kamar, aku berpikir bukan hanya aku yang menempati kamar ini. Kenapa? Karena kamar ini sangat berantakan. Tidak mungkin jika kamar ini kosong dalam posisi berantakan. Aku yakin ada yang menempati kamar ini selain aku. Ah sudahlah! Ku hempaskan tubuh lelahku ini di atas sebuah ranjang. Aku memejamkan kedua mataku. Dan....

 

BRUUUKKK.....

 

Terdengar suara bantingan pintu yang keras itu hingga membuatku terkejut. Mataku terbelalak ketika melihat seorang remaja laki-laki masuk kedalam dan ada seorang remaja lainnya ikut masuk kesini. Kupikir mereka adalah teman sekamarku. Tapi apa iya?

"Oh, ayolah maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukan itu. Biar aku perbaiki PSP milikmu...." Ucap remaja laki-laki yang memiliki rambut coklat tua dan mata hijau itu.

"Sudah lupakan saja, aku sudah memaafkanmu..." Ucap remaja yang lainnya sembari tersenyum kecil dan berjalan menuju sofa yang ada dikamar kami. "Hey, sepertinya kita kedatangan teman baru" Lanjutnya sambil melirik kearahku.

"Hi, kenalkan aku Joshua Osbron" Ucapnya sambil menjabat tanganku.

"Aku Justin Bieber" Ucapku. Lalu aku memutar kedua bola mataku menuju remaja yang sedang duduk di atas sofa. "Lalu kau siapa?"

"Aku Dylan Rexford. Apakah kau anak baru?"

"Um--Of Course!"

"Well. Dari manakah asalmu?" Tanya Dylan.

"Strartford, Ontario, Canada. Kau sendiri?"

"San Antonio, Texas, Amerika Serikat"

"Ohh. Texas? Cool..."

"Hey, apakah tidak ada yang mau tau dari mana aku berasal?" Ucap Joshua.

"Oh Josh, kurasa dari mana asalmu itu tidak penting bagi kami! Hahaha~" Dylan tertawa lepas melihat raut wajah Josh yang tampak konyol itu.

"Err.. Menyebalkan!!!" Josh mendengus kesal pada Dylan. Sepertinya mereka berdua memang sudah sangat akrab. "Well. Justin, untuk lebih dekat dengan kami. Bagaimana kalau kau ikut kami untuk makan siang diluar?" Ajak Josh.

"Makan siang diluar? Apa boleh?"

"Tentu saja, boleh. Jika sekolah sudah selesai, kami bebas kemana pun" Ucap Dylan.

"Asalkan kami kembali sebelum jam 9 malam" Ucap Josh melanjutkan kata-kata dari Dylan.

"Wow... Kupikir tinggal di asrama sangatlah ketat, tapi---"

Dylan bangkit dari sofa yang diduduki olehnya sejak tadi. "Yeah, awalnya aku juga berimajinasi seperti itu. Tapi kenyataannya asrama ini tidak seperti yang ada dalam imajinasiku. Haha~"

.

.

.

.

.

Aku, Josh, dan Dylan berjalan kaki menuju gerbang. Kami pun keluar dari asrama ini. Aku melihat Josh dan Dylan merebut paksa dua sepeda dari tangan pemiliknya yang masih termasuk siswa Musical Academic. Aku hanya terdiam melihat aksi kasar dari kedua bocah itu, sampai akhirnya Josh menyuruhku untuk naik kesepedanya. Aku dibonceng oleh Josh dengan berdiri dibelakang sambil memegang pundak Josh.

Josh dan Dylan mulai mengayuh sepeda dengan kilat. "Kita mau kemana?" Aku menoleh pada Dylan yang sedang mengendarai sepeda tepat disampingku.

"Entahlah. Apa kau ada ide?"

Aku menepuk keningku karena heran dengan kelakuan bodoh dua bocah itu. "Oh shit. Jadi kalian berdua mengendarai sepeda ini tanpa tujuan?" Dylan hanya tertawa mendengar ocehanku tadi. "Hmm---Bagaimana kalau kita makan ke Mc. Donald saja?"

"Nah, good idea Mr. Bieber" Ucap Josh sambil tetap mengendarai sepeda.

.

.

.

.

.

Kini kami bertiga telah tiba di Mc.Donald. Kami pun langsung turun dari sepeda dan langsung memparkirkannya. Setelah memparkirkan sepeda, kami bertiga masuk ke dalam Mc.Donald dan mencari tempat duduk yang kosong. 

"Okay, kalian ingin pesan apa?" 

"Aku cheeseburger" Ucap Josh.

"Kau pesan apa Dylan?"

"A--Aku? Umm... Kurasa aku ingin big mac, untuk minuman terserah kau saja"

"Umm... Okay wait!!!" Aku pun bangkit dari tempat dudukku. Dan....

"AWAAAASS JUSTEEENN!!!!" Terdengar suara teriakan Josh dan Dylan yang memekik.

 

BYUURRR.......

 

Sepertinya aku menabrak seseorang. Aku pun menoleh ke belakang untuk melihat yang terjadi. Oh tidak!!! Aku menabrak seorang gadis yang sedang membawa pesanannya. Minumannya tumpah mengenai makanannya dan sebagian lagi airnya berceceran di lantai. Gadis itu menatapku dengan sinis.

"KAU TELAH MENGACAUKAN MAKAN SIANGKU DAN TEMAN-TEMANKU!!!" Teriak gadis itu sambil mendorong tubuhku. Aku menabrak meja didekatku. Aku hanya menatap Josh dan Dylan, namun mereka berdua hanya membalas tatapanku dengan heran kemudian mengangkat bahu mereka keatas.

Aku pun berjalan mendekati tempat duduk gadis dan teman-teman dari gadis yang ku tabrak tadi. "Huh.... Hey, nona maafkan atas kecerobohanku yang tadi" 

"Kawan-kawan sebaiknya kita pergi dari sini. Kita cari tempat lain untuk makan siang kali ini!" Gadis berambut merah itu bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh kawan-kawannya.

"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja!"

"Apa? Maaf katamu? Kau pikir dengan kata maafmu itu bisa mengembalikan semuanya... HAH?" Ucap gadis itu lalu pergi meninggalkanku.

"Maaf atas perlakuan temanku ya. Dia memang sedang banyak masalah" Ucap gadis yang memiliki rambut coklat tua itu lalu mengikuti temannya pergi. 



.

.

.



Josh Pov

 

Malam ini aku mengalami insomnia. Aku pun duduk dan melihat Dylan telah tertidur pulas. Aku pun segera memutar bola mataku kearah tempat tidur Justin. Namun aku melihat Justin masih duduk melamun diatas ranjangnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tapi aku pikir dia sedang banyak masalah. Akupun berjalan menuju ranjangnya dan duduk tepat disampingnya.

"Justin...." Seruku. Namun tidak ada respon dari Justin dan dia masih melamun. "JUSTEEENN!!!!" Aku pun berteriak tepat disamping telinganya. 

"Aghhh!!!!" Justin mendekap mulutku dengan bantal yang dari tadi di genggamnya. Tidak, kupikir dia benar-benar ingin membuatku mati. "JOSH, APA-APAAN KAU INI? KAU INGIN MEMBUATKU JANTUNGAN?"

"I'm sorry. Habis dari tadi kuperhatikan, kau melamun saja. Kalau kau ada masalah cerita saja padaku! Tenang, aku bisa menjaga rahasia kawan..." Ucapku berbisik.

"Tidak, aku tidak ada masalah"

"Apa kau yakin?"

Justin mendorong tubuhku dan menutup tubuhnya dengan selimut. "Sudah pergi sana! Aku mau tidur" Justin mengusirku dari tempat tidurnya.



.

.

.

 

Author Pov

Malam yang gelap gulita kini sudah menjelma menjadi pagi yang cerah. Siswa dan Siswi Musical Academic pun harus menjalani aktivitas seperti biasanya.

 

KRIIINGG....... KRIIIINGG....... KRIIIIIIIINGGG...........

 

"Err.... A---Ada kebakaran... Kebakaran... Josh, Dylan bangun. Asrama kita kebakaran!!!!" Ucap Justin sambil menggoyang-goyangkan tubuh kedua temannya itu. "Aduh kalian ini susah sekali sih. Hey, bangun ada kebakaran!!!" Justin masih menggoyang-goyangkan tubuh kedua temannya itu dengan wajah yang panik.

"Hoooaammm...." Dylan menguap dan mulai membuka matanya.

"Hey Dylan bangun. Sudah tau ada kebakaran masih saja bersantai-santai"

"APA KAU BILANG KEBAKARAN?" Ucap Dylan dengan mata melotot.

"IYA.... AYO KITA BANGUNKAN JOSH!!!" Ucap Justin menarik tangan Dylan untuk turun dari ranjang.

"JOSH BANGUN KEBAKARAN!!!"

"Huh... Apa kalian yakin ada kebakaran ditempat ini?" 

Justin tidak habis pikir, kenapa Josh masih terlihat santai dalam ranjangnya. Padahal Justin yakin sekali bahwa ada kebakaran. "Yakin sekali Josh!"

"Ah sudah kalau kau tidak mau bangun, kami berdua saja yang keluar" Ucap Dylan menarik tangan Justin dan membawanya keluar. Namun, setelah keluar mereka heran karena suasana di asrama itu sangatlah tenang seakan-akan tidak terjadi apapun.

"Justin, katamu asrama kita kebakaran?"

Justin hanya menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal itu. "Uh... Aku tidak tau. Tapi tadi aku mendengar suara seperti alarm kebakaran"

"Oh Justin. Mungkin yang kau dengar itu bukan alarm kebakaran"

"Lalu itu ap---"

"Itu alarm pagi untuk kita bangun tidur bodoh!!!!" Ucap Dylan lalu masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan Justin diluar.



.

.

.

 

Justin Pov

 

Baru dua hari saja aku tinggal di New York sudah banyak kejadian awkward yang menimpaku. Kupikir dengan tinggal disini justru akan membuatku semakin buruk. Apalagi jika aku terus bersama kedua temanku Josh dan Dylan yang memang memiliki sifat yang tidak jauh dariku. Suka mencari keributan, malas belajar, dan suka berlaku seenaknya, ya itulah kami. Hari ini adalah hari pertamaku untuk masuk ke kelas. Dan kau tau pelajaran pertama yang harus ku ikuti itu apa? Matematika, ya matematika pelajaran yang paling aku benci. Semoga saja ini tidak menjadi awkward moment lagi.

"Hey kau rambut jambul coklat!!!" Ucap seorang guru wanita sambil melihatku dengan sinis.

Aku melhat kiri dan kanan untuk memastikan bahwa guru itu benar-benar memanggilku. "Err.... Siapa? Aku?"

"Ya kau...." Wanita itu menunjukku dengan wajah penuh amarah.

"Kenapa?"

"Mana seragam milikmu?"

"Seragam? Aku belum mendapatnya, lagi pula aku adalah siswa baru disini" Jawabku santai.

"Aku tidak perduli dengan alasanmu itu. Sekarang kau minta seragam milikmu diruang pengambilan seragam!!!!"

"Apa? Aku harus mengambil seragam ditempat yang aku tidak tau???" Balasku dengan nada suara yang meninggi. Aku yakin setelah ini dia akan marah padaku.

"Bodoh.... Cari sendiri sana!!! Kau kan sudah besar"

"Okay... Baiklah!!!" Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas dengan santainya.

 

.

.

.



Author Pov

 

Justin berjalan menuruni anak tangga. Dia bingung harus bertanya pada siapa. Tiba-tiba saja ada terdengar seseorang memanggilnya. Tunggu memanggilnya atau bukan ya? Atau jangan-jangan dia salah dengar.

"HEEEEEYY!!!!"

Justin menoleh pada sumber suara. Terlihat ada seorang gadis berkulit putih, berambut kuning pendek sebahu yang sedang mendekatinya. "What's up?" 

"Kau laki-laki yang kemarin mengacaukan acara makan siang ku bukan?"

Justin berusaha mengingat kejadian yang lalu. Dan benar, gadis yang ada dihadapannya itu adalah teman dari gadis yang Justin tabrak kemarin. "K--Kau mau a--pa? Jangan bilang kau datang kemari karena disuruh oleh kawanmu si rambut merah itu"

"Apa si rambut merah? Maksudmu Lily Madison?"

"Whatever.." Justin melipat kedua tangannya tepat didepan dadanya.

"Umm... Kenalkan aku Daisy Wellington" Ucap gadis itu sambil menjulurkan tangan.

"Justin Drew Bieber"

 

Justin dan Daisy pun berkenalan hingga mereka tampak lebih akrab. Daisy pun tidak segan menemani Justin untuk mengambil seragamnya. Hingga pada suatu tempat, terdengar suara teriakan seorang gadis memanggil nama 'Daisy'. Lantas siapakah yang memanggil Daisy?

 



-To Be Continued-






Ditulis Oleh : Dyan Rosdiana // 8/14/2014 11:40:00 PM
Kategori:

1 Komentar:

WARNING!!!
- Diharapkan memberi nama saat berkomentar!
- Pergunakan bahasa yang sopan untuk berkomentar.
- Jika ada yang berkomentar tidak sopan, maka admin berhak menghapus komentar tersebut.
- Jika kalian mau copas dari sini, sertakan nama blog ini sebagai sumbernya.
- Jika ada link mati, mohon diberitahukan melalui komentar.
- Author juga tinggal di dunia nyata dan tidak akan selalu online, jika komentar kalian tidak dibalas mohon dimaklumi ^^

 

Statistik

Statistik

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Berlangganan Melalui

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner